Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Nabi: Puasa ramadhan dijaman Nabi Muhammad SAW

Blog Orang IT - Setiap tahun, umat muslim diperintahkan untuk berpuasa. Sebab, terdapat bulan khusus yang penuh keistimewaan dan menjadi pintu taubat bagi hamba-Nya yang bertaubat. Karena keutamaan bulan Ramadhan, Allah mewajibkan umat muslim untuk taat dan berpuasa selama satu bulan lamanya.

Kewajiban Puasa sendiri telah diperintahkan dalam surah Al-Baqarah:183 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kalian. Tujuannya agar kamu bertakwa.”

Namun, pernahkah kita berpikir bagaimana asal mula perintah berpuasa? Bagaimana puasa pada jaman nabi dahulu? Bagaimana pula cerita nabi terhadap awal mula puasa Ramadhan?

Puasa ramadhan dijaman Nabi

Mengacu sejarah dahulu, sebelum agama Islam datang pun, masyarakat Arab telah memiliki hubungan yang erat dengan bulan Ramadhan. Sebab, selama bulan Ramadhan kakek nabi Muhammad senantiasa meditasi di gua Hira, beliau pun rutin memperbanyak sedekah.

Di saat yang sama pula, masyarakat Arab menyambut datangnya bulan Ramadhan. Karena penduduk Arab cenderung mengagungkan bulan Ramadhan, ternyata turut mempengaruhi kehidupan sosial mereka. Bahkan, selama bulan Ramadhan mereka cenderung mengharamkan perang. 

Kemudian jika merujuk ayat diatas, sebenarnya puasa Ramadhan sudah ada sejak zaman sebelum nabi Muhammad SAW. Kala itu, Allah Ta’ala memerintahkan kaum jahiliyyah untuk menunaikan puasa Ramadhan. 

Sayangnya, golongan tersebut menentang perintah Allah. Kemudian, hal serupa juga Allah perintahkan pada saat zaman nabi Muhammad. Kala itu, nabi Muhammad beserta sahabat maupun pengikutnya menjalankan perintah tersebut.

Di sinilah sejarah puasa Ramadhan dimulai. Awalnya, puasa Ramadhan diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah. Artinya, setengah tahun setelah nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Hijrahnya nabi dari Mekkah ke Madinah menjadi satu peristiwa penting sebagai penyempurnaan syariat Islam. Pasalnya, kala itu kiblat dipindahkan ke Masjidil Haram yang sebelumnya mengarah ke Masjid Al-Aqsa. Karena peristiwa itulah, puasa Ramadhan mulai dijalankan oleh Rasulullah.

Kemudian sekitar pertengahan bulan Ramadhan, umat muslim berperang melawan musyrikin Mekkah di Badr. Saat berperang, Allah berikan kemenangan kepada umat muslim. Karena itu, umat muslim menyambut hari raya idul fitri dengan dua kemenangan. Keduanya adalah berpuasa dan kemenangan melawan kaum musyrikin Mekkah.

Perintah berpuasa sehari sebelum idul fitiri juga telah ditetapkan pada masa itu. Pada saat itu pula, nabi Muhammad dan sahabat mengeluarkan zakat fitrah. Kemudian pada hari kemenangan (idul fitri), Rasulullah bersama para sahabat keluar rumah guna menunaikan shalat ied. Saat itulah, kebiasaan tersebut pertama kali dilakukan oleh umat muslim. 

Setelah perintah berpuasa turun, kala itu nabi Muhammad masih memperbolehkan umatnya untuk tidak berpuasa. Ringkasnya, nabi Muhammad memerintahkan sahabat dan umat muslim yang mampu dalam menjalankan ibadah puasa.

Perlu diingat ada kewajiban yang harus dibayar. Kala itu, umat muslim yang tidak berpuasa diwajibkan untuk membayar fidyah. Hal ini tercantum dalam hadits riwayat Bukhari yang mengatakan “Dahulu, hari Asyura merupakan hari kaum Quraisy untuk berpuasa. Kemudian Rasulullah pun juga berpuasa pada hari Asyura. Kemudian saat beliau (nabi Muhammad) datang ke Madinah, beliau pun juga berpuasa. Ia turut memerintahkan sahabat dan umatnya untuk melaksanakan puasa. Lalu ketika perintah puasa Ramadhan turun, beliau mengizinkan umatnya untuk berpuasa ataupun tidak. Barangsiapa yang hendak berpuasa, puasalah. Sedangkan barangsiapa yang enggan berpuasa, itu juga diperbolehkan.”

Meski puasa Ramadhan sudah ada sejak zaman dahulu, namun dalam pelaksanaannya sedikit berbeda. Kala itu, umat muslim diwajibkan berpuasa sampai waktu Maghrib (seperti sekarang ini). Setelah Maghrib tiba, mereka diperbolehkan untuk makan dan minum, hingga melakukan hubungan suami istri.

Jika telah memasuki shalat Isya, umat muslim diperintahkan untuk melaksanakan shalat dan tidur. Namun, setelah menyelesaikan shalat isya, mereka tidak diperbolehkan lagi makan dan minum ataupun berhubungan suami istri sampai keesokan maghrib.

Namun, pelaksanan puasa saat itu cenderung memberatkan sahabat maupun umat Islam. Bahkan dikisahkan, salah seorang sahabat pingsan lantaran belum berbuka karena tertidur. Terlebih, saat itu kondisinya pun Lelah akibat bekerja.

Karena penetapan puasa yang dinilai berat, kala itu tak sedikit dari umat islam yang melanggar larangan berpuasa, seperti makan dan minum misalnya. Karena kondisi tersebut, kemudian perintah berpuasa mengalami perbaikan seperti saat ini. 

Baca juga: Orang yg boleh tidak berpuasa

Maksudnya, sebelum menunaikan ibadah puasa, umat muslim diperintahkan untuk sahur terlebih dahulu. Kemudian, setelah shalat isya umat muslim tak perlu lagi menyambung puasanya.

Sejak peristiwa itulah, sampai saat ini Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa dan belajar menahan mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan. Puasa Ramadhan juga mengajarkan kepada kita untuk menelaah dan menjadikan itibar peristiwa terdahulu.

Jika kita mengulik lebih jauh lagi, pengikut nabi Nuh berpuasa selama satu tahun. Namun, satu tahun selanjutnya mereka dibebaskan untuk tidak melaksanakan puasa. Berbeda dengan nabi Ibrahim. Zaman nabi Ibrahim, umatnya diperintahkan berpuasa selama enam bulan, kemudian enam bulan selanjutnya mereka terbebas dari puasa.

Lain halnya dengan zaman nabi Daud. Disebutkan, puasa umat nabi Daud ialah sehari puasa dan sehari tidak puasa. 

Karena itulah, puasa yang dilakukan oleh umat nabi Muhammad cenderung lebih singkat dan ringan dibandingkan puasa nabi-nabi yang lain. Di mana setelah fajar tenggelam, kita diperbolehkan untuk makan dan minum. Tak hanya itu, puasa yang dilakukan oleh nabi Muhammad beserta umatnya juga dilakukan hanya setahun sekali.

“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu perbedaan antara terbitnya matahari dan terbenamnya matahari. Kemduian, sempurnakanlah puasa sampai datangnya malam. Namun, selama berpuasa janganlah kamu berhubungan suami istri, pun saat kamu beritikaf dalam masjid. Inilah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikian Allah menerangkat ayat-Nya agar manusia senantiasa bertakwa.” (QS Al-Baqarah:187).

Satu hal lain perintah berpuasa kian diturunkan. Selain karena peristiwa diatas, bulan Ramadhan juga bertepatan dengan turunnya Al-Qur’an sebagai wahyu. Peristiwa ini lebih dikenal dengan istilah Nuzulul Qur’an.

Turunnya Al-Qur’an sekaligus menjadi momen di mana pada usia 40 tahun, nabi Muhammad diangkat oleh Allah SWT sebagai utusan Allah.

Bedanya Puasa Umat Muslim dengan Ahli Kitab

Seperti yang telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah:183, sejatinya puasa telah ada dan dilakukan sejak zaman dahulu. Menurut beberapa tafsir dan jumhur ulama, bahwa puasa juga dilakukan oleh ahli kitab maupun orang Nasrani.

Disebutkan, ahli kitab berpuasa selama 24 jam penuh. Selama berpuasa, mereka pun hanya berbuka satu kali. Sementara kaum Nasrani, mereka berpuasa sepanjang hari dan tidak menyantap sesuatu yang memiliki ruh.

Dari penjelasan diatas, hendaklah kita senantiasa bersyukur dan memohon berkah pada Allah Ta’ala. Sebab, Allah telah meringankan puasa umat nabi Muhammad, bahkan memberi keistimewaan di bulan Ramadhan.

Karena itulah, sebagai bentuk syukur, hendaknya kita sebagai manusia bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam menunaikan ibadah puasa. Selain mengharap Ridha Allah, tujuannya agar diri kian bermuhasabah dan dapat belajar dari kisah-kisah terdahulu.

www.helmykediri,com

Helmy Kediri
Helmy Kediri Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendokan orang tuanya

Posting Komentar untuk "Cerita Nabi: Puasa ramadhan dijaman Nabi Muhammad SAW"